![]() |
Makam Syekh Khatamar Rasyid Bakik di Bangka. Foto: Suryan Masrin |
Setiap seorang wali pasti memiliki beberapa karomah yang tak dimiliki oleh orang pada umumnya, termasuk juga Syekh Khatamar Rasyid yang memiliki beberapa karomah. Namun sebelum menyebutkan beberapa karomah beliau, penulis akan menguraikan ringkas riwayatnya berdasarkan keterangan dari cucunya. Dalam catatan H Sofwan (Manaqib KH Chotamarrasyid, tidak diterbitkan), cucu Syekh Khatamar Rasyid yang tinggal di Belinyu, disebutkan bahwa sebelum beliau datang ke Belinyu (Bangka), ia terlebih dahulu tinggal dan bermukim di Palembang selama kurang lebih 20 tahun. Ia juga disebutkan berperan dalam menyebarkan Islam di sana, tidak hanya itu ia juga berdakwah hingga ke Riau dan Tanjung Pinang sampai ke semanjung Malaka.
Pada tahun 1924 beliau merantau ke Bangka (Belinyu), tepatnya di Masjid Jami' Kampung Tengah. Setahun kemudian, beliau bersama anak dan istrinya pindah ke Bakik Parittiga. Bakik dituju karena ia terinspirasi dengan pemakaman para sahabat nabi, yakni pemakan bakiq di samping Masjid Nabawi di Madinah. Beliau tinggal selama 30 tahun di sana. Syekh Khatamar Rasyid lahir di Banjarmasin Kalimantan pada tahun 1303 H/1883 M. Ayahnya bernama H Usman sebagai mana tertulis dalam nisan makamnya "Haji Khatamar Rasyid bin almarhum Haji Utsman". Beliau wafat pada tahun 1955, tepatnya pada 10 Muharram 1375 Hijriyah dalam usia 72 tahun.
![]() |
Silsilah Syekh Khatamar Rasyid Foto: Suryan Masrin |
Beberapa Karomah
Dalam tulisan ini, beberapa karomah ini didapat dari tutur keturunan beliau yang tinggal di Bakti, yakni dari Atok Zainuddin (penjaga makam) dan Bapak Amrul. Dari mereka berdua itulah tulisan ini bisa menjadi sebuah cerita. Selain itu, beberapa cerita tersebut juga yang beredar dan umum di tengah masyarakat setempat. Menurut cerita bapak Amrul yang ia dapatkan dari gurunya yang juga masih keturunan Syekh Khatamar Rasyid, bahwa ada sebuah kejadian yang di luar akal sadar sebagai manusia, ketika hujan turun beliau tidak mengangkat baju dijemuran, padahal ia sudah diberi tahu akan hal tersebut, dengan santun ia menjawab 'biarlah tidak apa-apa. Kemudian beliau mengangkat baju tersebut, namun dalam keadaan kering (tidak basah).
Kisah lain yang diceritakan oleh Atok Zainuddin (cucu Syekh Khatamar Rasyid) bahwa suatu ketika beliau menyuruh orang yang sedang ada di rumahnya untuk menumbuk bumbu memasak ikan. Kemudian setelah ditumbuk, direbuslah bumbu tersebut dalam panci. Si penumbuk bumbu jadi keheranan, disuruh masak ikan tetapi ikannya tidak ada. Air bumbu ikan sudah mendidih, tidak berapa lama tiba-tiba ada orang yang mengantarkan ikan. Ketika menjelang subuh, ada kebiasaan Syekh yang selalu mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat subuh. Suatu ketika ia menuju pinggir pantai untuk mandi di sumur. Ia melihat seorang pemuda yang hendak turun melaut, kemudian dipanggil pemuda tersebut untuk dimintai tolong menimba air. Sudah hampir satu jam, belum kelar juga beliau mandi. Si Pemuda mulai resah dan bingung.
Syekh mandi yang begitu lama bukan karena bermain dengan air, melainkan karena keraguan akan tuntasnya mandi secara bersih. Waktu subuh sudah lewat, dan akhirnya mandi pun usai. Sebelum beranjak shalat, beliau bertanya pada Si Pemuda 'engkau hendak menangkap ikan kan?' Iya jawab si pemuda. Sambil menunjukkan jari telunjuknya, beliau berkata, di balik batu besar itu banyak ikannya. Tidak pikir panjang Si Pemuda langsung bergegas menuju batu yang ditunjuk Syekh. Segera ia menebar pukat, tidak ayal berbagai ikan ada di sana dan banyak sekali. Cerita ini jika secara akal sehat memang tidak masuk akal, tetapi demikianlah adanya. Wallahu'alam.
Kehati-hatian Dalam Ibadah
Menurut tradisi lisan masyarakat setempat yang diambil dari berbagai informasi, bahwa Syekh Khatamar Rasyid sangat berhati-hati sekali dalam hal beribadah, terutama dalam perkara wajib. Diceritakan bahwa beliau ketika berwudu selalu menyebut dan mengucapkan dalam hatinya kata-kata "sah tidak" berulang-ulang. Pada saat secara keyakinan beliau kata terakhir yang diucapkannya adalah sah, maka ia tidak akan mengulangi lagi wudunya. Namun sebaliknya jika kata tidak, maka ia akan mengulangi wudunya hingga kata sah.
Ketika bepergian (keluar rumah) selalu membawa buntelan kain yang berisi pakaian untuk shalat. Isi dalam buntelan tidak hanya satu saja, namun beberapa. Ini dilakukan untuk kehati-hatian dalam shalat, untuk menjaga kesucian pakai ketika shalat. Ia juga mencuci pakaian beliau sendiri, tidak menyuruh orang lain. Ini dilakukan karena ia sangat berhati-hati dengan kesucian pakaian, apalagi untuk shalat. Cucian harus dilakukan dengan air yang mengalir atau dialirkan atau dikucurkan agar najis atau kotoran benar-benar hilang.
Dalam hal jual beli, kehati-hatian beliau sangat serius.
Setiap transaksi dalam jual beli harus ada akad (ijab qabul), jika tidak ada
beliau tidak akan mengambil barang tersebut hingga ada akad nya. Hal ini
berlaku bagi orang yang beliau minta tolong membelikan sesuatu. Beliau akan
bertanya akan perkara tersebut, jika tiada akad di dalamnya maka akan
dikembalikannya.
Oleh: Suryan Masrin
Pemerhati Manuskrip Arab Melayu Bangka
1 Comments
Keren, mencerahkan informasi tentang lokal
ReplyDelete