Dewi Sartika bersama guru-guru Sakola Kautamaan Isteri, Bandung Sumber: ayobandung.com Oleh: Kokom Komala | Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi |
Berawal dari keresahannya melihat perempuan Sunda yang tidak mampu membaca dan menulis surat pribadi, Dewi Sartika bertekad ingin memberikan pendidikan untuk kaumnya agar tidak mudah ditipu. Sempat ditolak oleh Bupati Bandung, Sakola Kautamaan Isteri yang dirintisnya berdiri pada tahun 1904 dengan modal 3 guru dan 60 murid.
Perempuan bernama lengkap Raden Ayu Dewi Sartika ini, lahir dari pasangan suami istri ambtenaar bernama Raden Rangga Somanaga dan Raden Ayu Rajapermas. Raden Ayu Rajapermas sendiri adalah adik dari pejabat Afdeeling Cicalengka, dan Raden Rangga Somanaga adalah patih di Mangunreja yang kemudian dipindahtugaskan menjadi patih di Bandung. Lahir dilingkungan keluarga priyayi, membuat Dewi Sartika tumbuh menjadi seorang wanita dengan aura bangsawan.
Setelah dipindah tugaskannya Raden Rangga Somanagara menjadi Patih Bandung, Dewi Sartika akhirnya disekolahkan di sekolah milik pemerintah kolonial. Padahal pada waktu tersebut suatu hal yang tabu jika anak perempuan pribumi bersekolah, bahkan bagi mereka kaum priyayi sekalipun. Perempuan hanya diajarkan agar nantinya dapat menjadi seorang istri yang dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, yakni urusan kasur, dapur dan sumur. Meskipun mendapat respon yang kurang baik dari para kerabatnya dengan menyekolahkan Dewi Sartika, Raden Rangga Somanagara tidak memperdulikannya. Bahkan putrinya itu dalam usia 9 tahun sudah dapat membaca dan berbahasa Belanda.
Namun seperti peribahasa yang menyebutkan bahwa roda kehidupan pasti akan berputar, Raden Rangga Somanagara menerima tuduhan pemerintah kolonial sebagai pemberontak. Hal ini disebabkan Belanda menuduh ia berupaya membuat kerusuhan pada saat pelantikan Bupati Bandung yang baru yakni Raden Aria Martanegara. Akibatnya Raden Rangga Somanagara dibuang ke Ternate dan seluruh kekayaannya diambil pemerintah kolonial.
Oleh karena kejadian tersebut, Raden Dewi Sartika dititipkan oleh ibunya pada uwaknya atau kakak dari ibunya di Cicalengka. Kehidupannya Dewi Sartika disana tidak sebaik dulu, sebab label anak pemberontak melekat padanya sehingga mengharuskan keluarganya menjaga jarak. Dewi Sartika di kediaman uwaknya diperlakukan seperti abdi dalem, lebih banyak melayani empunya rumah. Namun hal itu bukan menjadi masalah baginya, ia justru mendapatkan pengalaman hidup yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Bagaimana tidak, sejak usianya 10 tahun Dewi Sartika sudah menjadi guru bagi kawan-kawannya di Cicalengka. Dengan bermodalkan tempat di belakang kandang kuda dan tanah sebagai papan tulisannya, Raden Dewi Sartika mengajarkan kawan-kawan menulis, membaca dan berbicara bahasa Belanda. Proses pembelajaran tersebut dikemasnnya ke dalam permainan seperti congklak, sebagai antisipasi diketahui oleh uwaknya. Sebab sekali lagi ditekankan bahwa pada masa itu pendidikan bagi kaum perempuan adalah hal yang tabu.
Perlunya Sekolah Bagi Perempuan
Bagi Dewi Sartika sendiri, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Bagaimana tidak, kerabatnya yang berada di Cicalengka sering kali meminta dibacakan surat dari teman jauhnya, sebab kerabatnya tidak bisa membaca dan begitupun ketika hendak membalas surat. Dewi Sartika lah yang disuruhnya untuk menuliskan surat. Betapa prihatinnnya ia melihat fenomena itu, bagaimana jika kerabat dan temannya dibohongi oleh orang lain sebab ketidaktahuannya pada huruf dan angka.
Ayahanda Dewi Sartika wafat ketika masih dalam proses pembuangan di Ternate, hingga ibunya kembali menemuinya dan pindah lagi ke Bandung. Pikirannya tidak dapat terlepas dari pendidikan, Dewi Sartika (1912) dalam bukunya Boekoe Kaoetamaan Istri menyebutkan “lamoen istri-istri menak kersa roekoen djadi hidji, ngamadjengkeun abdi-abdi, tanggtoe laoen-laoen oge abdi-abdi oerang priboemi maradjoe, madjoe pangartina, madjoe pangabisana, madjoe kadaekna, hade lakoe lampahna, hade adatna, tjindekna salamet hiroepna.” Arti dari tulisan itu yakni orang-orang pribumi bersatu maka dapat memajukan abdi-abdi atau kaumnya sendiri, perlahan orang-orang pribumi akan maju, maju dalam perilaku, maju dalam pengetahuan, dan maju dalam kecakapan. Maka dari itu untuk memajukan kaum perempuan, maka harus ada sekolah sebagai tempatnya, kemudian juga ada guru yang memiliki rasa kasih sayang dan tahu akan tata krama agar dapat menjadi contoh bagi murid-muridnya.
Sulistiani dan Lutfatulatifah (2020) dalam Konsep Pendidikan Bagi Perempuan Menurut Dewi Sartika, menyatakan bahwa pandangan Dewi Sartika terhadap anak laki-laki maupun perempuan tidak cukup jika memiliki perilaku yang baik saja. Terlepas dari itu mereka juga harus memiliki pengetahuan dan kecakapan sebagai bekal bagi hidupnya. Terlebih bagi perempuan nantinya akan menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, maka untuk mendidik anaknya kelak diperlukan perempuan yang pintar pula.
Ditolak Bupati Bandung, Didukung Inspektur Pengajaran
Melalui sekolah yang akan menjadi sebuah modal bagi perempuan untuk mencapai cageur, bageur, bener. Sebab di sekolah murid tidak hanya diajarkan menulis, membaca, dan berhitung, pelajaran seperti tentang tata krama, memasak, menyulam dan membatik serta mengurus keluarga beserta isinyapun tidak terlewatkan. Langkah pertama yang beliau lakukan untuk mendirikan sekolah adalah dengan mendirikan tempat pengajaran di belakang rumahnya. Pada awalnya hanya 10 anak yang mengikuti pengajaran tersebut, namun perlahan berkembang hingga kabar pembukaan sekolah itu sampai ke telinga Inspektur Pengajaran bernama Tuan Hameer. Di luar dugaan beliau ternyata sangat mendukung keinginan Dewi Sartika untuk mendirikan sekolah, berbanding terbalik dengan Bupati Bandung Raden Aria Martanegara yang menolaknya beberapa kali.
Setelah berkali-kali Dewi Sartika bersimpuh meminta restu untuk mendirikan sekolah, akhirnya Bupati Bandung itu lulus dan memberikan izin. Sekolah pun dibuka tanggal 16 Januari 1904 dengan letak awalnya di pendopo kabupatian dengan Dewi Sartika sebagai kepala sekolahnya. Dewi Sartika awalnya dibantu oleh 3 orang temannya sebagai guru dengan murid 60 orang. Pelajaran yang diajarkan yakni membaca, menulis, berhitung, menyulam, memasak dan pendidikan tentang tata krama. Metode pengajaran menurut Dewi Sartika yang dapat dilakukan oleh guru yakni dengan cara menasihati dan memberi contoh.
Hingga pada perkembangannya, sekolah yang akhirnya diberi nama Sakola Kautamaan Isteri, berdiri di atas bangunannya sendiri. Kurikulum mata pelajaran yang diajarkan semakin bertambah dengan adanya bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang diajarkan oleh Nyonya Belanda. Terdapat pula pelajaran merawat orang sakit dan pelajaran membatik. Lulusan Sakola Kautamaan Isteri diajarkan menjadi perempuan mandiri dengan mampu menghasilkan uang sendiri dengan terjualnya kerajinan hasil tangan mereka. Standar lulusan pendidikan menurut Dewi Sartika yakni “nu bisa hirup”, maksudnya adalah lulusan sekolah itu harus dapat menjalani kehidupan dan bisa menghadapi tantangan zaman, seperti lulusannya yang sudah dapat berwirausaha dan membantu orang tuanya.
Sedikit demi sedikit mata hati rakyat pun terbuka dengan berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di Kautamaan Isteri. Pada awalnya hanya 10 orang meningkat menjadi 210 orang, dan gurunya bertambah menjadi 5 orang. Sungguh suatu pencapaian dan proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali air mata, keringat, pikiran, tenaga, waktu, bahkan harta yang dikorbankan untuk menegakan sekolah tersebut. Seiring waktu pemerintah kolonial pun mendukung didirikannya sekolah dan memberi bantuan dana untuk pengembangannya. Begitupun masyarakat dan para bangsawan yang tidak jarang menjadi donatur untuk Kautamaan Isteri. Atas jasanya itu Dewi Sartika mendapat penghargaan dari pemerintah kolonial berupa pemberian orde atas jasa beliau.
Sakola Kautamaan Istri itu berubah nama menjadi Sakola Raden Dewi atas saran dari istri pejabar Belanda yang mendukung usahanya. Dewi Sartika (1912) dalam bukunya Boekoe Kaoetamaan Istri menyebutkan beberapa hal yang dipikirkannya pada saat proses pendidirian sekolah tersebut yakni: a) cara agar orang tua ingin menyekolahkan anak perempuannya, b) anak-anak mau sekolah, c) pengajaran apa yang dibutuhkan untuk anak perempuan, d) mengajari tentang tata krama, e) menanyakan kepada berbagai pihak terkait kebutuhan untuk kaum perempuan agar nantinya hidupnya tidak sengsara, f) dana yang digunakan untuk memajukan Sakola Kutamaan Istri ini ada dengan cara Tuan Insepektur dan Bupati Bandung membuat surat edaran kepada para bangsawan dan menak agar dapat memberikan sebagian hartanya untuk mendukung kemajuan sekolah tersebut.
Namun kejayaan dari sekolah yang memberikan kebermanfaatan bagi perempuan bumiputera itu harus luluh lantak karena perang. Masuknya Jepang pada 1942 dan kondisi keamanan yang belum stabil pasca kemerdekaan Indonesia membuat bangunan sekolah hancur. Sekolah ini bahkan menjadi saksi peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946.
Dewi Sartika beserta dengan putrinya bernama Raden Dewi Tardine mengungsi ke Cineam Tasikmalaya. Kekacauan akibat perang, terutama berkaitan dengan lenyapnya sekolah yang telah ia rintis membuat berdampak pada kesehatannya sendiri. Semakin hari kondisi kesehatannya semakin menurun tidak kunjung membaik. Hingga akhirnya Dewi Sartika wafat pada tanggal 11 September 1947 di Cineam, Tasikmalaya. Belakangan hari makamnya dipindahkan ke Bandung di makam Bupati Bandung yang terletak di Jalan Karanganyar.
Referensi:
Sartika, R. Dewi. (1912). Boekoe Kaoetamaan Istri. Bandung: A.C. NIX & Co.
Sulistiani, Y., Lutfatulatifah. (2020). Konsep Pendidikan Bagi Perempuan Menurut Dewi Sartika. Equalita. Vol 2. No 2.
0 Comments