![]() |
Pasukan Argentina yang mendarat di Falkland awal April 1982 (Sumber: britishlegion.org.uk) |
Oleh:
Judirho, K. Deppy, L. Anggrainy, L. Artanevia, P.A Ramadhan
(Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Tanjungpura)
Kepulauan Falkland milik Inggris diserang oleh Marinir Argentina demi menegakkan klaim historis atas daerah itu. Perang yang juga dimaksudkan untuk mengembalikan kepercayaan diktator Leopoldo Galtieri ini berakhir gagal setelah Inggris mengirimkan armada tempurnya.
Kepulauan Falkland (atau disebut Malvinas) terletak di Samudra Atlantik Selatan di Landas Patagonian dimana pulau-pulau utama terletak sekitar 480 km di sebelah timur pantai Patagonian selatan, Amerika Selatan dan sekitar 1.210 km dari Tanjung Dubouzet di ujung utara Semenanjung Antartika. Kepulauan Falkland memiliki luas daratan sekitar 4.700 mil persegi yang terdiri dari Falkland Timur, Falkland Barat, dan 776 pulau kecil. Demikian Kohen dan RodrÃguez dalam buku The Malvinas/Falklands Between History And Law Refutation Of The British Pamphlet.
Sengketa Kepulauan Falkland kemudian
mencapai puncaknya, ketika diktaktor Argentina, Leopoldo Galtieri memutuskan
untuk menyerang Falkland sebagai alasan historis, kedekatan dengan wilayah
Argentina, dan warisan Spanyol. Tetapi dibalik alasan tesebut untuk memulai
perang ini sebenarnya untuk mengalihkan perhatian rakyat dari permasalahan
ekonomi dan mengembalikan kepercayaan kepada pemerintah. Pada 19 Maret 1982,
dengan diam-diam Argentina membuka jalannya perang dengan mendaratkan 30 kapal
berusia tua sebagai kamuflase yang diisi oleh prajurit Argentina di Pulau
Geogia Selatan. Perlawanan tidak ada artinya sehingga berhasil mengibarkan
bendera Argentina. Pada awalnya pertahanan Inggris untuk Kepulauan Falkland
terdiri dari 79 marinir Inggris dan 120 penjaga sipil.
Pada 26 Maret, Argentina mendaratkan
100 tentara tambahan di Georgia Selatan dengan dalih menyelamatkan kapal mereka
karena mendengar HMS Endurance yang datang dari Port Stanley. Fokus serangan
Argentina ke Georgia Selatan sebenarnya hanyalah dalih bagi Argentina yang
kemudian untuk menyerang semua wilayah Falkland, secara mengejutkan Inggris
dimana pada 2 April 1982, diserang oleh 4.500 tentara Argentina yang terdiri
dari Angkatan laut, darat, dan udara menyerang Falkland Timur. Akhirnya pasukan
Argentina menyerang dan menduduki pertahanan Falkland bersama Port Stanley yang
merupakan ibukota jatuh ditangan Argentina. Setelah penyerbuan tersebut,
Gubernur Kepulauan Falkland, Rex Hunt, menyerah kepada Argentina. Mendengar
Kepulauan Falkland jatuh, Inggris kemudian memutuskan hubungan diplomatik pada
hari yang sama kepada Argentina. Bala bantuan Argentina pada awalnya datang
secara teratur dan dalam waktu 24 jam dari 4.000 tentara Argentina telah
mendarat di pulau tersebut.
Perdana Menteri Inggris, Margaret
Thatcher kemudian mengerahkan kekuatan militernya untuk merebut Falkland
kembali. Tiga kapal selam nuklir Inggris dikerahkan untuk ditugaskan mengacau
pasokan dan kosentrasi militer Argentina selama tiga minggu di perairan selat
Falkland, sambil menunggu gugus tugas darat langsung dari Inggris Raya tiba
secara serentak. Kekuatan armada Inggris yang digunakan dalam Perang Falkland
mencapai 65 kapal perang dengan dua kapal induk, HMS Invicible dan HMS Hernes
yang dilengkapi dengan teknologi modern, satelit dan rudal. Sementara itu
pasukan Inggris yang terlatih begitu baik bahkan memiliki petinggi militer yang
berpengalaman dalam konflik bersenjata bertahun-tahun. Hal ini sebagaimana
diungkapkan dalam penelitian Panggalo berjudul, Referendum
Inggris di Kepulaun Falkland/Malvinas dan Dampaknya Terhadap Argentina
(2013).
Pada 25 April, dua kapal perusak,
enam helikopter dan 230 pasukan Inggris menaklukan pasukan pengawal Argentina
yang jumlahnya 156 orang di Georgia Selatan. Setelah meraih kemenangan perdana
dari Inggris, Argentina mulai merespon dengan melancarkan serangan udara
beruntun dari pangkalan-pangkalan di Argentina terhadap kapal-kapal perang
Inggris yang memilliki pertahanan Anti-Air Warfare (AAW) yang lebih modern.
Serangan pesawat Argentina mulai menghantam sekitar 75 persen dari kapal-kapal
Inggris dengan bom. Akan tetapi upaya serangan udara Argentina menimbulkan
kerugian yang besar ketika armada laut Inggris menjatuhkan 35 pesawat tempur
Argentina selama pertempuran di sekitaran laut Falkland. Dengan kerugian besar
Argentina terhadap pesawat modernnya, pertahanan udara menjadi lemah yang
menimbulkan ancaman nyata untuk negara Argentina dan pasukannya di Falkland.
Dengan keberhasilan Inggris menguasai laut dan udara dari Argentina, armada
darat Inggris mampu menginjakan kakinya di tanah Falkland Timur dalam
serangkaian invasi amfibi. Setelah dari Georgia Selatan, pasukan marinir dan
angkatan darat terus meluncurkan operasi perebutan kembali yang secara bertahap
Falkland berhasil direbut oleh Inggris. Begitupun Port Stanley pada awal bulan
Juni, dengan kesuksesan militer Inggris ini membuat Argentina berada diujung tombak.
Perang Falkland yang telah menjadi
sebuah pentas bertempur hidup dan mati, membuat Inggris malah mendapatkan
dukungan Internasional. Dengan tekanan dari PBB, Amerika Serikat, dan Uni
Soviet kepada Argentina agar segera mengakhiri perang tersebut. Karena sadar
posisi yang sudah terpojok dan tidak mampu untuk mempecundangi Inggris, yang
notabene merupakan negara yang dengan sejarahnya memiliki pengalaman ribuan
kali perang. Untuk menghindari daripada kehancuran internal, akhirnya Argentina
menyerah pada 14 Juni 1982. Menyerahnya Argentina juga tidak hanya karena
tekanan internasional yang memojokan Argentina, tetapi secara garis besar
adalah ketidaksanggupan militer Argentina untuk melanjutkan perang lebih luas
dan jatuhnya moralitas pasukannya yang rata-rata adalah rekrutan wajib militer.
Sehingga ketika berhadapan dengan kekuatan yang sebenarnya dari Inggris dibayang-bayangi
kehancuran dan kematian yang tidak ada artinya.
Setelah perang Falkland/Malvinas
berakhir hubungan diplomatik antara Argentina dan Inggris dapat dikelompokkan
menjadi tiga tahap. tahap pertama terjadi pada tahun 1982-1989, tahap kedua
terjadi pada tahun 1989-2003, dan tahap ketiga hubungan diplomatik Argentina –
Inggris terjadi sekitar tahun 2003 – sekarang. Dari pasukan Argentina sendiri
sudah menyadari bahwa mereka akan kalah dalam perang tersebut.
Setelah mengalami kekalahan dan
gagal merebut Kepulauan Falkland dari Inggris. Argentina mengalami dampak yang
signifikan dari perang yang diantaranya kembali muncul masalah-masalah ekonomi
yang serius seperti inflasi yang kembali meningkat, kemuakan publik terhadap
pelanggaran hak-hak asasi manusia yang parah, dan tuduhan-tuduhan negatif
terhadap rezim yang meningkat telah bersama-sama melemahkan keberadaan junta
militer Argentina. Hal ini mendorong transisi bertahap mulai membawa Argentina
kearah demokratis. Dengan tekanan publik dan resiko amarah dari rakyat
Argentina, Presiden Leopold Galtieri membuka kembali larangan terhadap
pembekuan partai politik dan memulihkan kebebasan yang mendasar.
Secara perlahan-lahan Argentina
kembali kepada demokrasi, setelah Leopoldo Galtieri mundur dari jabatan
presidennya pada tanggal 18 Juni 1982 dengan meninggalkan inflasi 200% dan
utang luar negeri yang masih bengkak karena perang.
Sementara Inggris dalam meraih kemenangan Perang Falkalnd 1982 dan
mengambilalih kembali Kepulauan Falkland, telah membangkitkan kembali
kepercayaan militer Inggris yang telah lama ‘vakum’ setelah terakhir kali
terlibat dalam perang secara frontal di Korea pada tahun 1950. Lawrene Fredman
dalam The Official History of the
Falklands Campaign. The Origins of the Falklands War (2005), mengungkapkan karena kemenangan Perang Falkland ini, Inggris mulai aktif
bersama Amerika Serikat dalam upaya ‘mengamankan Timur Tengah’ seperti pada
Perang Teluk I dan II (1990-1991) dan invasi Irak sampai memunculkan fenomena
Arab Spring pada awal abad 20.
Dari perang ini juga menjadi sebuah
pelajaran berharga untuk Argentina dan secara tidak langsung telah membuktikan
tentang pernyataan yang sangat keliru akan negara-negara berkembang (lemah)
tidak akan berani menyerang yang lebih superior (negara-negara nuklir). Setiap
perang tentu memiliki dampak jangka panjang terhadap politik dan hubungan
Inggris dan Argentina. Meskipun Argentina memulihkan hubungan diplomatiknya
dengan Inggris pada September 1995 karena kepentingan bilateral. Dalam sengketa
Kepulauan Falkland masih terus terjadi karena perihal masa lalu yang terus
diungkit, bahkan permasalahan inipun kadang terbawa dalam dunia olahraga, salah
satunya pertandingan Piala Dunia tersengit Inggris vs Argentina tahun 1986.
Dilain hal, upaya lain untuk merebut
Falkland juga terus dilakukan dengan jalan diplomatik oleh Argentina yang membawa
permasalahan tersebut kepada komite dekolonisasi PBB. Argentina bahkan
mengkritik Amerika Serikat dibalik gagalnya Argentina merebut Falkland, karena
telah membantu Inggris dalam konteks dukungan Internasional yang dibawanya. Sehingga
Argentina mendapatkan tekanan dari dunia Internasional terutama negara-negara
Eropa Barat. Argentina masih terus berupaya untuk mendapatkan kembali Falkland
dengan cara meminta dukungan dari negara-negara Amerika Latin untuk mendukungnya
dalam mendapatkan kedaulatan atas kepulauan itu.
0 Comments