ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Secercah Harapan Pemajuan Kebudayaan di Kalbar

Pengurus Badan Musyawaran Kebudayaan (Bamusbud) Kalbar bersama Menteri Kebudayaan RI
Fadli Zon dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan (20/02) di BPK Wilayah XII (Dok. Rikaz)


Pewarta: M. Rikaz Prabowo 


Bincang Budaya dengan tema pemajuan budaya di Kalbar bersama Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Sejumlah isu-isu terkini terkait pemajuan kebudayaan dan harapan-harapan para penggiat budaya kepada pemerintah turut dibahas.


Kebudayaan sebagai hasil cipta rasa, karsa, dan karya yang dihasilkan oleh manusia menjadi salah satu bukti peradaban masyarakat yang hidup. Indonesia dengan cultural diversity nya merasa perlu menjadikan kebudayaan sebagai sebuat aset atau kekayaan negara yang patut dilindungi maupun dilestarikan. Budaya dapat menjadi sebuah bargaining position maupun diplomasi internasional yang dapat menaikkan posisi Indonesia di dunia internasional. Hal ini dapat dilihat dari beberapa negara yang kerap kali menggunakan kebudayaannya sebagai nilai jual, seperti Korea Selatan dengan budaya K-Pop atau India dengan industri film Bollywood dan lagu-lagunya. Untuk itu di era Presiden Prabowo Subianto ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia dibentuklah Kementerian Kebudayaan.

Demikian inti narasi di atas yang disampaikan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam bincang budaya dengan tema 'Pelestarian Warisan Budaya Kalimantan Barat' di aula Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII Kalimantan Barat, sabtu (22/02). Krisantus Kurniawan, Wakil Gubernur Kalimantan Barat yang belum lama ini dilantik juga turut hadir menemani Menteri Kebudayaan dalam bincang budaya. Momentum ini dapat dikatakan sebagai sebagai pidato pertama dirinya menjabat sebagai wakil gubernur, dan secara terkhusus menyampaikan pandangan dan program-program Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di bidang kebudayaan yang akan segera dirumuskan. 

Krisantus menyoroti tentang Taman Budaya yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani Pontianak yang selama ini seperti "mati suri" karena digabungkan dengan UPT Museum Kalimantan Barat. Untuk itu ia menggaransi sesuai dengan janji kampanyanye akan menyemarakkan kembali Taman Budaya, membenahi tata kelola administratifnya, serta melakukan perbaikan pada bangunannya. 

Tidak sampai disitu, wakil gubernur juga kembali melontarkan wacana pembangunan Rumah Adat Tionghoa yang rencananya akan didirikan di Jalan Sutan Syahrir. Satu komplek dengan Rumah Radakng dan Rumah Adat Melayu. Begitu pula dengan event-event besar seperti Gawai Dayak yang kali ini ia berkeinginan agar dapat diikuti oleh seluruh suku-suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat. 

Namun, Krisantus juga menekankan pentingnya harmonisasi dan kerukunan antar etnis. Untuk itu pada event-event adat yang cukup besar, ia akan menjadikan kegiatan itu sebagai simbol harmonisasi. "Nanti pas Gawai Dayak, suku-suku lain akan membantu dan turut meramaikan. Jadi ini tidak hanya event orang Dayak, tapi event semua suku yang ada di Kalbar. Begitupula nanti jika ada event adat Melayu, kami ingin orang-orang Dayak dan suku lain juga membantu kelancarannya", pungkasnya. 

Perhelatan ini diikuti oleh penggiat budaya yang tergabung dalam Badan Musyawarah Kebudayaan (Bamusbud) Kalimantan Barat dimana Majalah Riwajat juga tergabung di dalamnya. Salah satu peserta menyampaikan harapannya kepada pemerintah tentang miniminnya ruang pementasan yang representatif di provinsi ini. Hal ini ternyata juga diamini oleh Menteri Kebudayaan, bahwa di seluruh Indonesia ruang-ruang pementasan secara kuantitas dan kualitas banyak yang belum memadai. Untuk itu menteri juga mendorong pemerintah daerah Kalimantan Barat menyediakan gedung pementasan yang representatif. 

Soal efisiensi anggaran yang saat ini sedang hangat dibicarakan dan menuai kekhawatiran, Menteri Kebudayaan menyatakan tidak mengalami pemangkasan. Ia bahkan menyampaikan untuk tahun ini dana-dana hibah seperti Dana Indonesia dan sejenisnya tetap akan dibuka serta akan diperluas serapannya. Untuk itu ia mempersilahkan penggiat budaya yang hadir untuk mengakses dana tersebut melalui pengajuan-pengajuan proposal.

Post a Comment

0 Comments