ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Seratus Tahun Pram, Karya Tulisan Sastra dan Sejarah yang Tak Pernah Padam

Acara peringatan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer di Pontianak (15/2)
(Dok: Judirho)


Pewarta: 
Judirho | Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas Tanjungpura

Seratus tahun Pramoedya, seabad Pram, Serattoer begitulah tagar untuk mengenang Pramoedya Ananta Toer yang lahir di Blora, 6 Februari 1925 sebagai seorang penulis bernuansa sastra dan sejarah dengan menyimbolkan rasa perjuangan untuk masyarakat Indonesia.

Komunitas Siberdaya, Majalah Riwajat dan komunitas lainnya melakukan kolaborasi untuk sebuah rangkaian acara MEMBACA PRAM pada Sabtu (16/2) di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XII, Pontianak. Acara ini diisi dengan dua sesi, dimana sesi pertama untuk melakukan diskusi mengenai Pramoedya beserta tulisannya yang termuat berbagai macam buku terbitan dan sesi kedua berisi puisi, cerita dan tampilan lainnya mengenai Pramoedya. 

Sosok Pramoedya dengan sebutannya Pram mengenai perannya sering mengkritisi dan membela kebenaran yang dimulai dari masa Kolonial Belanda sampai Orde Baru. Hal ini pun kian tidak mudah, membuatnya sering dijebloskan kedalam penjara dengan berbeda-beda rezim yang tidak menyukai sosok idealis dan individualis dimiliki Pram ini.

Sebagaimana didiskusikan oleh Rikaz Prabowo, seringnya Pram dijebloskan penjara atau diasingkan oleh rezim berbeda ini, tidak jarang pula Pram membuat tulisan-tulisan ataupun catatan yang tidak sengaja melahirkan sebuah buku-buku yang dinilai memiliki asas perjuangan, kebebasan, kemerdekaan, nasionalisme dan anti-feodal maupun kolonialisme.

“Tentu ada banyak, saya mengkoleksi banyak buku Pram seperti buku Jejak Langkah, Cerita Dari Digul, Keluarga Gerilya, Midah Si Manis Bergigi Emas, Arus Balik, dan Larasati,” ujarnya.

Diantara banyak buku dari Pram, ada satu buku menurutnya menarik yakni Cerita Dari Digul, sejatinya buku ini bukan karangan asli Pram kendati hanya penyunting, dimana menjelaskan kehidupan tokoh-tokoh intelektual dan nasionalis yang ditangkap dan dibuang oleh kolonialis Belanda ke Digul (daerah Papua), salah satunya tokoh masyarakat Kalimantan Barat juga ikut dibuang yakni Gusti Sulung Lelanang.

“Karena  buku Cerita Dari Digul itu kompilasi dari 4 catatan para pejuang-pejuang yang pernah dibuang. Catatannya tercecer dimana-mana, kemudian sama Pram diketik ulang dan menariknya di buku itu saya dapat info dan ada kaitannya dengan Kalimantan Barat. Itu menceritakan seorang pejuang bernama Gusti Sulung Lelanang, salah satu dari 11 perintis kemerdekaan dari Kalimantan Barat, pernah dicatat oleh Pram,” ungkapnya.

Dibalik diskusi yang begitu hangat dilakukan ditengah-tengah studio bioskop ini, Rikaz Prabowo menyebutkan sosok Pram sebagai seorang sastrawan mampu memvisualkan dan menggambarkan apa yang terjadi dimasa itu, seperti salah satu karangan tulisannya mengenai Ken Arok masa Hindu-Buddha, seolah nyata dan terasa saat membaca karya-karya tulisannya.

“Pramoedya bisa membayangkan, memvisualisasikan bagaimana pergelutan politik, pergelutan kepentingan di kerajaan tersebut. Kita bicara tentang Pram tadi juga ada yang bilang kalau Pram ini seorang penulis, seorang sastrawan, tapi selain itu juga bisa menghubung tulisannya tentang kerajaan juga, kepentingan kerajaan pada masa itu bahkan ratusan tahun yang lalu bisa terbentuk kembali di tulisannya,” jelas Rikaz.

Sebagai penutup dari diskusi inipun, Rikaz Prabowo menerangkan bahwasanya Pram telah memberikan sumbangan sejarah dan tidak asal menulis dan memperhatikan keadaan sekitar dan jadilah karya luar biasa. Dimana karya-karya yang dibuatnya mampu dipergunakan zaman sekarang sebagai sumber-sumber yang disukai masyarakat Indonesia, terkhususnya melalui buku-buku sastra sejarah.

Sementara itu, Hatta selaku dari Komunitas Siberdaya merefleksikan akan karya-karya berharga Pram untuk sebagai pengingat dan kenangan tentang perjuangan dan sastra sejati yang pernah ada di Indonesia. Hal ini tentu mengenai tentang nilai-nilai pantang menyerah dan nilai-nilai kritis bagaimana seorang Pram menulis meski dalam keadaan terpenjara.

Hatta juga berharap dengan adanya kegiatan ini yang telah dilaksanakan bisa menjadi awal untuk membangkitkan Sastra di Kalimantan Barat menjadi lebih luas. “Ada seabad Pram, ada serattoer, sebelumnya ditahun 2020 ada membaca Lekra, dimana kita harus mengungkit sastra di Kalimantan Barat. Maka dari itu seratus Pram ini bisa menjadi tonggak dan salah satu supaya sastra bisa kembali sadar, bangkit, dan melawan di Kalimantan Barat,” imbuhnya.

Post a Comment

0 Comments