ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Budaya Sebagai Media Dakwah Islam di Nusantara

Webinar "Budaya Sebagai Media Dakwah Islam di Nusantara" oleh
Dr. Zulkifli, Jumat 28 Februari 2025. 

Berkembangnya agama Islam di Nusantara yang dahulunya lebih dikenal dengan Tanah Jawi sekitar abad ke-13 M/14 M, diketahui berjalan positif berkat pendekatan budaya.

Strategi dakwah yang damai dan alamiah telah memudahkan Islam diterima tanpa hambatan berarti, penyebarnya memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan kebudayaan yang telah ada. Melainkan melakukan pendekatan secara persuasif ke dalam masyarakat, agar dapat memodifikasi atau memberikan corak Islam pada perkembangan kebudayaan yang telah ada. Selain disebarkan oleh pendakwah seperti Walisongo di Jawa, perdagangan juga berkontribusi mengenalkan Islam hingga ke wilayah timur Indonesia melalui pedagang-pedagang muslim yang  bermukim di sekitar kota-kota pelabuhan.

Narasi di atas disampaikan oleh Zulkifli dalam webinar sejarah dengan tema Budaya Sebagai Media Dakwah Islam di Nusantara pada Jumat 28 Februari 2025. Webinar ini diselenggarakan oleh Majalah Riwajat yang bekerjasama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kalimantan Barat. Perhelatan ini diikuti oleh berbagai kalangan, seperti pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum.


Pemaparan materi oleh Dr. Zulkifli

Zulkifli yang juga duduk sebagai Wakil Ketua MSI Kalimantan Barat yang kesehariannya berdinas di IAIN Pontianak, juga mengungkapkan makna Islam Nusantara yang mungkin kerap dimaknai keliru. Menurutnya Islam Nusantara bukanlah suatu doktrin dalam Islam yang menyangkut soal aqidah dan ketauhidan, melainkan suatu corak bagaimana Islam di Indonesia mampu berkembang dan memiliki ciri khas tersendiri yang dipadu padankan dengan kebudayaan asli. "Kita lihat misalnya songkok atau kopiah ini, di Arab sana laki-lakinya menggunakan sorban ketika hendak sholat. Sedangkan orang-orang di Nusantara mengenal penutup kepala sendiri yang khas seperti kopiah, blangkon, dan sebagainya. Secara fungsi baik sorban maupun kopiah sama saja yang bertujuan agar rambut tidak menutupi jidat ketika bersujud", pungkasnya. 

Ditambahkan pula oleh Zulfkifli bahwa akulturasi Islam masuk dalam berbagai bidang seperti ritual, tasawuf, pendidikan, seni, dan arsitektur. Beliau mencontohkan pada Masjid Jami' yang umumnya peninggalan suatu kesultanan, termasuk yang ada di Kalimantan Barat. Jika diperhatikan bentuk bangunan khususnya pada atapnya, tidak mengikuti gaya Timur Tengah yang menggunakan kubah. Melainkan atap tumpang yang bersusun tiga atau seperti gaya limasan yang menunjukkan adanya pengaruh arsitektur tradisional di Nusantara. Begitu pula pada bagian-bagian Masjid Jami', terdapat teras-teras (serambi) yang digunakan jamaah untuk bercengkrama sebelum ataupun pasca sholat seperti Masjid Jami' Kesultanan Pontianak. Keberadaan teras-teras ini merupakan bentuk adaptasi yang memperhatikan kebiasaan penduduk asli di Nusantara pra-Islam, yang tidak ditemukan pada masjid-masjid di Timur Tengah.


Pewarta: M. Rikaz Prabowo

Post a Comment

0 Comments