Pasukan Sekutu (Amerika Serikat) memasuki Stadion Rizal, Manila, 1945
(Sumber: thediplomat.com)
Oleh: Judirho
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas Tanjungpura
Kota Manila direbut Jepang dengan mudah dari tangan Amerika Serikat (Sekutu) pada awal tahun 1942. Namun selang tiga tahun kemudian Sekutu harus mengambilnya kembali dengan pertempuran kota yang dahsyat pada Februari 1945.
Penyerbuan secara tiba-tiba oleh pesawat Jepang di Pearl Harbour, Hawaii, memicu Amerika Serikat mengumumkan deklarasi perang dengan Jepang. Satu hari setelah insiden tersebut pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang melakukan penyerbuan pertamanya di Luzon, Filipina dan bergerak merebut Manila. Pasukan Amerika Serikat dan Filipina yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur berusaha untuk mempertahankan kota, kalah secara jumlah dan persenjataan, dengan berat hati ia menyatakan Manila sebagai kota terbuka pada tanggal 26 Desember 1941. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghindari kerusakan kota dan korban sipil dari serangan udara Jepang.
Pada tanggal 2 Januari 1942, pasukan Jepang dibawah pimpinan Tomoyuki Yamashita berhasil menguasai Manila tanpa perlawanan. Sementara itu MacArthur beserta sisa pasukannya mundur ke Bataan, sebuah semenanjung di barat Luzon dan bertahan selama beberapa bulan. Pada tanggal 9 April 1942, pasukan MacArthur menyerah kepada Jepang yang nantinya akan dikenal sebuah barisan kematian yang disebut Death March of Bataan MacArthur sendiri atas perintah Washington untuk segera dievakuasi ke Australia dan meninggalkan pasukannya di Filipina, tidak lama sebelum pasukannya menyatakan penyerahan. Ada sebuah kutipan beruapa janji MacArthur kepada Filipina dan pasukannya setelah mendarat di Australia yang menyatakan “I Shall Return”.
Secara lengkap Manila beserta wilayah Filipina lainya berada di bawah pendudukan Jepang selama tiga tahun. Selama pendudukan Jepang itu, penduduk Manila mengalami berbagai penderitaan seperti kelaparan, penyiksaan, pemerkosaan, eksekusi, dan kerja paksa. Jepang juga membentuk pemerintahan boneka yang disebut Republik Filipina dengan dipimpin oleh Jose P. Laurel. Pembentukan Republik Filipina juga merupakan sebagai perwujudan persaudaraan bangsa Asia Timur Raya dibawa lingkup Kaisar Jepang. Meski begitu, pemerintahan tersebut tidak diakui khususnya Amerika Serikat dan gerakan perlawanan Filipina yang masih terus berjuang melawan Jepang.
Pembebasan Manila oleh Sekutu (1945)
![]() |
Warga sipil Filipina yang mengungsi, Februari 1945 (Sumber: National Archives in positivelyfilipino.com) |
Pertengahan tahun 1944, menjadi titik balik Sekutu (pasukan gabungan Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Selandia Baru) melawan Jepang di Perang Pasifik yang berlangsung sengit dan brutal. Setelah berhasil merebut beberapa pulau penting di Pasifik, Sekutu mulai berencana menyerang Filipina sebagai pintu gerbang menuju Jepang. Pada tanggal 20 Oktober 1944, MacArthur kembali ke Filipina dengan membawa jumlah pasukannya yang begitu besar. Setelah mendarat di Leyte, ia mengatakan “I have returned” (Saya telah kembali) sebagai ungkapan 2 tahun yang lalu pernah berjanji akan kembali lagi.
Untuk menuntaskan janjinya tersebut, MacArthur berupaya untuk merebut Manila yang dikatakan menjadi penting secara politis dan strategis bagi Amerika Serikat, terutama pelabuhan Manila. Mayjen Oscar W. Griswold, komandan Korps ke-16 menganggap Manila takkan dipertahankan Jepang dengan kuat, sehingga pertempuran kolosal tidak mungkin terjadi dan kemungkinan Manila akan menjadi kota terbuka.
Akan tetapi, pernyataan Oscar salah, Tomoyuki Yamashita selaku Panglima Tentara Jepang di Filipina bersikeras menolak Manila dijadikan kota terbuka. Meskipun kekurangan pasukan untuk mempertahankan Manila, Yamashita juga memberikan mandat kepada koleganya yakni Laksamana Muda Sanji Iwabuchi. Ia memimpin sebanyak 17 ribu prajurit yang sebagian besar merupakan Marinirnya Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang), untuk memperkuat pertahanan di Filipina. Demikian PK Ojong (2020), dalam Perang Pasifik.
Sementara Yamashita lebih memilih untuk mengerahkan sebagian besar pasukan Rikugunnya (Angkatan Darat Jepang) di pedalaman utara Pulau Luzon dalam menghadapi Sekutu. Secara tidak langsung, maksud tujuannya menjadi jelas yaitu memperlambat laju Sekutu menuju kepulauan utama Jepang. Untuk membantu Iwabuchi yang diberikan mandat memimpin 17 ribu pasukan sampai titik darah penghabisan di Manila. Yamashita juga memerintahkan sebagian kecil dari pasukan Grup Shimbu untuk menghancurkan semua jembatan dan instalasi vital di segenap kota, serta mengevakuasi warga sipil Jepang dan kemudian mundur ke sisi timur Pegunungan Manila untuk mengamati pertempuran Manila yang tidak terhindar lagi.
Laksamana Iwabuchi berniat untuk membawa pasukannya MacArthur jatuh di neraka yang dibuatnya. Ternyata ini bagian dari keinginannya membalaskan dendam, karena kapal tempur yang pernah dinakhodainya, IJN Kirishima, ditenggelamkan oleh armada Amerika di Guadalcanal pada 1942. “Kita harus senang dan bersyukur atas kesempatan untuk mengabdi pada negeri kita dalam pertempuran besar ini. Sekarang dengan kekuatan yang ada, kita akan menghadapi musuh dengan berani. Banzai untuk Kaisar! Kita akan melawan hingga prajurit terakhir,” pekik Iwabuchi kepada pasukannya.
Api pertempuran Manila
![]() |
Tentara Jepang yang tertangkap oleh Pasukan Amerika (Sumber: hearmyselftalkhistory.com) |
Pada tanggal 9 Januari 1945, 30 ribu pasukan Amerika Serikat mendarat di Teluk Lingayrn di Utara Luzon dan bergerak cepat ke selatan. Pada tanggal 3 Februari 1945, pasukan Sekutu memasuki pinggiran Manila dan pengepungan kota mulai dilakukan. Laksamana Muda Sanji Iwabuchi untuk segera memerintahkan pasukannya membumihanguskan Manila agar menghambat pergerakan Sekutu dalam memasuki kota tersebut.
Pada tanggal 6 Februari 1945, dengan terburu-buru Jenderal MacArhur mengumumkan Manila telah jatuh. Tetapi pertempuran Manila yang sebenarnya baru saja dimulai dimana Divisi Kavaleri 1 dan Divisi Airborne ke-1 melaporkan situasi yang mencekam karena pasukan Jepang melakukan perlawanan secara tiba-tiba di setiap sudut jalanan perkotaan. Pertempuran Manila dimulai dengan serbuan gelombang tentara Jepang dan gencaran artileri Sekutu terjadi di sudut kota dan sebuah momen pertama karena satu-satunya pertempuran kota di Perang Pasifik. Pertempuran ini memaksa kedua pihak mulai mempertahankan mati-matian di setiap jalan dan tiap gedung sebagaimana yang sudah biasa terjadi di Eropa.
Universitas Santo Tomas yang disulap menjadi kamp interniran jadi sasaran utama Sekutu selama pertempuran Manila, dimana kamp tersebut hanya dijaga satu detasemen pasukan Jepang. Melihat tank-tank dari Batalyon Kavaleri ke-44 Amerika menerobos, segera pasukan Jepang yang mempertahankan kamp tersebut menyerah begitu saja dan Sekutu berhasil membebaskan kamp tawanan Universitas Santo Tomas. Presiden Filipina Manuel Quezon juga turut diantara tawanan dibebaskan oleh sekutu, akan tetapi ia meninggal beberapa bulan kemudian karena penyakit TBC. Demikian Robert Ross Smith (1961), dalam Triumph in the Philipines.
Marinir Amerika Serikat mulai melancarkan serangan terbesarnya di Intramuros sebuah kompleks kota pada tanggal 23 Februari 1945. Serang dibuka dengan 140 tembakan artileri, diikuti penyerbuan oleh resimen 148 melalui pendobrakan yang dibuat antara dinding Quezon dan gerbang parian. Lalu resimen 129 menyeberangi Sungai Pasig untuk kemudian menyerbu sebuah lokasi dekat percetakan uang pemerintah. Pertempuran di Intramuros terus berkecamuk hingga 26 Februari 1945. Sedikitnya 3 ribu warga sipil melarikan diri dari serangan, ada juga mayoritas perempuan dan anak-anak yang sempat ditahan oleh Jepang juga dibebaskan atas perintah Kolonel Noguchi yang juga turut ikut serta dalam pembantaian terhadap ribuan warga sipil. Akan tetapi sandera yang dibebaskan oleh Noguchi pada akhirnya timbul korban besar karena frustasinya tentara Amerika.
Tiga hari setelah Intramuros direbut, pada tanggal 3 Maret 1945, resimen Kavaleri ke-8 dari Sungai Tullahan kemudian terarah untuk menguasai Istana Malacanang, tempat tinggal resmi Presiden Filipina. Mereka tidak menemukan sebuah perlawanan berarti dari pasukan Jepang yang bertahan, baru setelah berselang beberapa jam, pasukan penyerbu mendapati perlawanan alot Jepang di komplek-komplek gedung pemerintahan hingga area pemukiman berlangsung selama berhari-hari. Namun, saat hari yang sama, Iwabuchi dan sebagian besar pasukannya bunuh diri di Benteng Santiago Manila, dengan demikian perlawanan sporadis Jepang berangsur mereda dan Manila resmi dibebaskan dengan harga yang mahal.
Tragedi Kemanusiaan di Manila
Manila yang tidak dinyataakan sebagai kota terbuka oleh Jepang, warga sipil turut menjadi korban akibat terjebak di berbagai pertempuran yang berlangsung. Dimana terdapat 100 ribu dari satu juta warga Manila menjadi korban pembantaian Jepang, sebagaimana 300 ribu warga sipil di Nanking yang juga jadi korban Jepang (1937-1938). Kekejaman Jepang dalam unsur pembantaian tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak 7 Februari 1945. Salah seorang prajurit Divisi Infantri ke-37 mengungkapkan kengeriannya ketika melihat jalanan yang terdapat banyaknya mayat-mayat warga sipil bergelimpangan.
Selama 28 hari berjalannya pertempuran tersebut,
pasukan Sekutu terus menyaksikan pemandangan serupa di setiap jalanan dan
gedung yang direbut melihat korban pembantaian Jepang bergeletakan dimana-mana.
Dari pernyataan tentara Jepang yang menyerah dari pertempuran Manila, ia
menjelaskan bahwa pembantaian sistematis itu umumnya diawali dengan pemerkosaan
terhadap warga perempuan dan dilanjutkan dengan eksekusi. Para ibu hamil
ditusuk dengan bayonet, lalu dilemparkan dari atas gedung sedangkan tawanan asing
yang ditahan juga tidak luput sasaran pembantaian yang berakhir di ujung
hunusan pedang perwira Jepang. Pembantaian tanpa pandang bulu ini dilakukan
juga secara brutal terhadap warga sipil asing lainnya, warga Jerman yang
notabene sekutu Jepang di blok poros juga turut menjadi korban. Hal ini
dilakukan sebagai pelampiasan amarah tentara Jepang yang mulai frustasi karena
tahap-tahap awal pertempuran Manila sudah dipojokkan dan serangan udara maupun
artileri terus digencarkan tanpa henti.
Sementara itu para wanita di Manila juga menjadi
sasaran pemerkosaan massal yang dianggap sebagai paling horor yang ditemukan
oleh pasukan Amerika. Dimana sebuah hotel Bayview dijadikan sebagai tempat
pemerkosaan massal, kemudian para korban dibakar hidup-hidup di kamarnya.
“Kehancuran Manila menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam Perang Dunia II, sebanyak 70 persen instalasi kebutuhan hidup, 72 persen pabrik, 80 persen distrik pemukiman selatan, dan 100 persen distrik bisnis rata dengan tanah. Bahkan rumah sakit-rumah sakit dibakar dengan para pasiennya masih terikat ditempat tidur. Para lelaki dimutilasi, sedangkan wanita segala umur diperkosa sebelum akhirnya dibantai dan mata bayi-bayi dicongkel dan ditempelkan di tembok-tembok seperti jelly,” tutur William Manchester dalam American Caesar: Douglas MacArthur 1880-1964 (2008).
Selain daripada pembantaian dari Jepang, warga Manila juga menjadi korban serangan udara Sekutu selama pertempuran Manila berlangsung. Atas perintah Letjen Oscar Griswold dan Mayjen Rober Beightler yang berupaya mengepung Instramuros yang terdapat 6 ribu pasukan Jepang untuk menyerah, sehingga opsi serangan udara pun dilakukan. Karena serangan udara inipun membawa warga sipil tewas mengenaskan maupun terjebak reruntuhan bangunan.
![]() |
Kota Manila yang hancur dalam operasi perebutan oleh sekutu pada 1945. (Sumber: worldwarphotos.info) |
Setelah Manila dinyatakan bebas oleh Sekutu pada 3 Maret 1945, kota tersebut rata dengan tanah dan akibat pertempuran Manila mengakibatkan 1.010 tentara Sekutu tewas dan 5.565 terluka. Sebanyak 100.000 sampai 500.000 warga Manila diperkirakan tewas karena pembantaian dari Jepang dan akibat dari tembakan artileri maupun pengeboman udara oleh militer Amerika, sementara pihak Jepang 16.665 tewas. Demikian Connaughton, Pimlott, dan Anderson, dalam The Battle For Manila (1995).
0 Comments